Senin, 10 Januari 2011

Hidup bersama keluarga di alam akhirat???

Setiap orang yang hidup di dunia ini membina kehidupan masing – masing dalam berkeluarga, dan memiliki naluri untuk hidup bahagia. Setiap Manusia pasti menginginkan suatu kebahagiaan dalam hidupnya, kebahagiaan yang terpenting dalam hidup adalah kebahagian yang dirasakan dalam satu himpunan keluarga yaitu cinta, kasih sayang, ketenangan, ketentrama, dan kesejahteraan dalam hidup. Dan hal itu harus kita dapatkan dengan perjuangan dan pengorbanan yang tidak mudah pula. Kita harus memiliki kesabaran, keimanan, ketaqwaan serta tekad dan niat dalam mencari keridlaan Allah SWT, dan kita harus berprinsip kuat pada sesuatu yang abadi, manusia akan mampu menuju kebahagiaan dan keamanan yang hakiki serta berprinsip dan berpegang teguh pada sesutu yang labil, niscaya akan menghasilkan sesuatu yang labil pula.. Tapi bagaimanapun hidup dan kebahagiaan di dunia hanyalah sementara dan yang paling kekal adalah hidup di alam Akhirat. Dengan seharusnya manusia berpikir panjang dalam hidup, bahwa hidup tidak hanya di dunia melainkan di akhirat, kita akan hidup abadi
Dalam keluarga pasti terdapat cinta dan rasa untuk selalu bersam bahkan tidak ingin terpisahkan seperti suami dengan istri, orang tua denga cucu dan anaknya. Namun hal itu tidak akan abadi, karena dengan paksa, maut akan memisahkan semuanya, tetapi satu keluarga di alam akhirat bisa saja berkumpul kembali, jika di setiap keluarga memiliki satu keimanan dan ketaqwaan yang sama.
Dan hadapilah hidup dengan sebaik – baiknya untuk mencapai akhirat yang abadi, Akhirat yang akan membawa kita pada sesuatu yang pasti dan kekal.

HIDUP BERKELUARGA DI ALAM AKHIRAT

• KEHIDUPAN DUNIA
Banyaknya pertanyaan tentang apa itu arti kehidupan yang sedang dijalankan. Kehidupan yang bisa membahagiakan, hidup bahagia dalam duniawi.
Seperti, apakah duniawi adalah kebahagiaan sejati? Apakah ada hal lain? Apakah kita akan hidup dengan orang – orang yang kita cintai untuk selamanya? Apakah duniawi adalah jalan kehidupan sebenarnya?. Dan apabila ada yang meyakinidunia adalah akhir dan puncak dari segalanya maka itu adalah salah, karena kehidupan yang sebenarnya adalah kehidupan alam akhirat, titik puncak arti kehidupan adalah berada dalam akhirat.
Banyak orang yang masih tergiur akan kehidupan duniawi yang bersifat sementara, dan mereka lupa akan tujuannya mereka hidup itu apa. Mereka terus mencari kebahagiaan hidup di dunia, harta, wanita, jabatan, pangkat, kehormatan, dan laian – lain. Merekalah orang – orang yang tidak akan menemukan kebahagiaan di akhirat.
Firman Allah SWT:

“ Sesungguhnya Kami jadikan apa yang terdapat di muka bumi sebagai perhiasan baginya dengan maksud untuk menguji manusia, siapakah di antara mereka yang lebih baik amal perbuatannya. Dan Kami juga mampu menjadikan permukaan bumi itu kersang dan tandus!” (Al-Kahfi, 18: 7 – 8 )

Kebahagian hidup yang sebenarnya adalah berbahagia dengan orang – orang yang kita cintai, kasihi dan sayangi yang berlangsung di alam akhirat yang kekal dan hidup di surga yang penuh dengan kebahagiaan.
Hal itu harus diupayakan dengan sungguh – sungguh didampingi dengan kesaaran, ketabahan, keikhlasan, & cinta pada Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW.
“ Dan orang – orang yang sabar karena mencari keridlaan Tuhannya, mendirikan shalat dan menafkahkan sebagian rizqi yang kami berikan kepada meraka, secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan, orang –orang itulah yang mendapat tempat kesudahan yang baik. Yaitu syorga’Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama – sama dengan orang – orang sholeh dari bapak- bapaknya, istri – istrinya dan anak – cucunya, sedang para Malaikat masuk ketempat – tempat mereka dari semua pintu sambil mengucapkan: “Salamun alaikum bima shobartum”. Alangkah baiknya tempat kesudahan itu”. (Q.S. Ar-Ra’du)

• KESENANGAN HIDUP MANUSIA
Salah satu kesenangan hidup manusia khususnya di dunia ini adalah berkumpul bersama anggota keluarga, yakni dengan anak istri dan orang tua. Jika di antara mereka itu berpisah beberapa hari saja lamanya mereka berusaha untuk bertemu kembali, bahkan jika di antara mereka terdengar ada yang sakit atau terkena musibah yang meresahkan hati, mereka akan berusaha untuk meringankan hal itu. Padahal itu semua hanya bersifat sementara, sebab yang namanya hidup di dunia tidak lah kekal dan abadi. Seketika suami akan berpisah dengan istri tercinta, orang-tua yang akan berpisah dengan anak dan cucu serta keluarga yang lainnya, dan harta benda yang di miliki akan ditinggalkan, dan hal itu akan dipaksakan juga melalui pintu maut, cepat atau lambat.

• MUNGKINKAH ANGGOTA KELUARGA BERKUMPUL DI AKHIRTA KELAK?
Mengenai hari akhir, banyak orang yang bertanya – tanya : “Mungkinkah satu kelurga berkumpul kembali di akhirat”?
Firman Tuhan menegaskan bahwa hal itu bisa terjadi kalau diantara mereka semua sama beriman dan beramal saleh sesuai tuntunan wahyu Ilahy.
Pertanyaan itu sangatlah wajar, sebab bagaimanapun juga senangnya seseorang tidaklah akan sempurna manakala jauh denga keluarga. Hidup berkeluarga akan dirasakan nikmatnya jika setiap anggota keluarga memenuhi fungsinya, adanya rasa pengertian dan sepenanggungan dan cinta kasih di antara mereka, sehingga terciptalah ketenangan, kebahagiaan, dan kesejahteraan dalam berkeluarga. Jika kita tidak saling melengkapi maka kenikmatan hidup berkeluarga tidaklah sesuai dengan apa yang kita inginkan.
Ketika dalam satu keluarga di mana istri tidak mau membantu suami, suami tidak sayang kepada istri, anak cucu tidak menghormati orang tu, orang tuapun tidak mau mengerti dengan kemauan anak maka kumpulnya keluarga seperti itu tidaklah membuat keadaan menjadi tenang dan nyaman, melainkan hidup berkeluarga seperti itu akan membuat hidup selalu gelisah dan tak nyaman.
Apabila manusia hidup berkeluarga di alam akhirat maka di antara mereka harus memiliki persamaan iman dan amal saleh yang dilukiskan dalam firman Allah S.W.T. antara lain adalah sabar dan salat, berinfak dan menolak keburukan dengan cara yang baik. Dan itu semua merupakan menifestasi dari pada iman dan amal saleh.

• USAHA YANG SEHARUSNYA DITEMPUH
Kasih sayang kepada keluarga adalah menjadi instink setiap manusia. Kasih sayang ada dua macam, ada yang bersifat sempit dan ada yang bersifat luas. Yang sempit sifatnya sementara, yaitu bagaiman menguruskan keluarga agar terpenuhi sandang, pangan, dan papannya selama hidupnya. Sedangkan kasih sayang dalam arti luas adalah kasih sayang yang pari purna, yaitu bagaimana menguruskan kelurga menjadi manusia yang hidupnya wajar serta menjadi hamba Tuhan yang taat mengabdi Kehadirat-Nya, agar kelak di akhirat tetap menjadi anggota keluarganya yang dicintai. Untuk itu ada usaha – usaha yang seharusnya ditempuh melalui pembinaan iman dan amal saleh yang dimaksudkan oleh firman Allah S.W.T.
Iman dan amal saleh, tercermin dalam tekad dan niat untuk mendapatkan keridoan Tuhan, menegakkan salat, infaq dan sodaqah, serta menolak keburukan dengan cara yang baik. Hal itu dapat diterapkan mulai dai rumah tangga, sekolah dan pergaulan. Kesemuanya banyak menentukan bagi terbentuknya keluarga yang beriman dan beramal saleh.
Rumah tangga yang dihayati oleh suasana agama akan dapat membentuk anggota keluarga yang beriman, sekolah yang guru – gurunya berjiwa iman dan takwa akan turut pula melukis hati anak didiknya menjadi beriman dan bertaqwa. Demikian pula masyarakat sekitar yang banyak memberikan pengaruh bagi perkembangan anggota masyarakat. Contohnya seperti adanya pengajian – pengajian rutin yang dilakukan masyarakat itu sendiri sehingga akan terbinanya masyarakat yang beragama.
Suatu keluarga akan dapat hidup berkeluarga di alam akhirat jika semua masing – masing keluarga itu memiliki keimanan yang utuh, pelaksanaan ibadat yang unggul dan memiliki akhlak mulia. Seseorang akan menjalani hidup dengan baik dan penuh dengan tanggung jawab dan dapat mengemudikan atau membangun kehidupan kelurganya dengan baik, sehingga keluarganya dapa mengamalakan tuntutan-tuntutan yang dikehendaki oleh Islam

1. Keimanan Yang Utuh
Keimanan kepada Allah SWT, akan melahirkan suatu individu yang unggul dan masyarakat yang berbudi luhur, berdisiplin dan beramanah demi kebaikan dunia dan akhirta. Seperti yang difirmankan oleh Allah dalam surah al – Asr:

“Demi masa sesungguhnya manusia itu berada dalam kerugiankecuali orang yang beriman dan beramal saleh yang berpesan dengan kesabaran.” (Surat Al-Asr 1-3)

Dalam ayat ini Allah SWT menjelaskan bahwa manusia yang beruntung ialah mereka yang beriman dan beramal saleh.

2. Pelaksanaan Amal Ibadat
Keimanan tanpa melaksanakan amal ibadat maka itu hanyalah sia – sia, seseorang yang amal dan ibadatnya unggul maka akan terlihat keimanannya melalui amal perbuatan dalam kehidupan sehari – hari.

3. Akhlak Mulia
Akhlak mulia yang unggul karena hasil keimanan yang kuat, dan disebabkan karena jalinan hubungan individu dengan individu yang lainnya dan iu terbentuk melalui nilai – nilai dan disiplin yang diamalkan oleh mereka sendiri. Nilai – nilai yang positif akan melahirkan individu yang amanah, ikhlas, tekun, berdisiplin, bersyukur, sabar, adil.

• DOA NABI IBRAHIM
Nabi Ibrahim a.s adalah rasul Tuhan yang sangat sayang terhadap anaknya, yang beliau fikirkan bukanlah masalah sandang dan pangannya melainkan bagaiman a putranya tetap menjadi anggota keluarga di hari hisab (Akhirat) seperti yang tertera dalam do’a beliau yang terkenal:
“ Ya Tuhanku jadikanlah aku dan anak – cucuku orang – orang yang tetap menegakkan shalat. Ya Tuhan kami, beri ampunlah aku dan kedua ibu bapakku dan sekalian orang – orang mu’min pada hari terjadinya hisab (hari Qiyamat).”

Hamba Allah yang baik ialah yang mau mendo’akan istri dan anak – cucunya sebagai berikut:
“Ya Tuhan kami, anugrahkan kepada kami istri- istri kami dan keturunan kami sebagai biji mata kami (sedap dipandang – Pen.) dan dijadikanlah kami pemuka bagi orang – orang yang bertaqwa.”

Demikianlah arti sayang kepada keluarga yang hakiki, bukan hanya difikirkan dalam jangka pendeknya saja melainkan lebih jauh lagi bagaimana nasibnya dalam kehidupan jangka panjang.

• KEHIDUPAN AKHIRAT YANG UNIK
Jika diperhatikan firman – firman Allah dalam Al-Quran mengenai kehidupan dalam akhirat adalah unik sekali. Kenikmatannya tidak dapat dibandingkan dengan kenikmatan yang ada di dunia. Sebaliknya pula kesusahannyapun tak dapat diperkirakan semacam kesusahan yang dialami di dunia. Kecelakaan manusia di dunia pada satu masa dapat dijadikan pengalaman bagi perbaikan di masa berikutnya. Di akhirat tidaklah demikian satu kali gagal maka seterusnya akan gagal, sebab akhirat adalah hari penentuan dan kristalisasi massal bagi seluruh ummat manusia. Penyesalan di saat itu tidaklah berguna.
Firman Allah:

“Adapun orang – orang yang celaka, maka tempatnya di dalam Neraka. Di sana mereka mengeluarkan dan menarik nafas (merintih). Mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika tuhan menghendaki (yang lain). Sesungguhnya Tuhan Maha Pelaksana terhadap apa terhadap apa yang Dia Kehendaki”. “Adapun orang – orang yang berbahagia maka tempatnya di dalam syorga, mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika tuhan menghendaki (yang lain) sebagai karunia yang tidak putus – putusnya … (Q.S. Hud 106-108)

Sabda Nabi:
“Apabila masuk ahli syorga ke dalam Syorga akan terdengar seruan orang yang berseru: Sesungguhnya bagimu akan tetap hidup tidak akan mati selama – lamanya, dan bagimu akan tetap sehat tidak akan sakit selama-lamanya, dan akan tetap muda tidak akan menjadi tua selama – lamanya, dan bagimu akan tetap senang tidak akan susah selama – lamanya”. (H.R. Muslim)

Demikianlah, keluarga yang sama – sama beriman dan beramal saleh akan bisa berkumpul kembali di alam akhirat dengan kenikmatan yang kekal abadi. Untuk mencapai tujuan itu perlu dirintis dengan usaha yang sungguh – sungguh di dunia ini, untuk membentuk keluarga yang bertaqwa seperti yang didoakan Nabi Ibrahim tersebut di atas.



20 Desember 2009 jam 13:05

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar